Gugur Asmara

Tiap ruang-ruang hampa ini membuatku bengap. Apa dayanya jika gempita menelanku bulat-bulat. Bukankah tandanya ini semua sudah tamat?

JIwanya meyakinkan ragaku bahwa untuk selalu menitih tiap lingkup perjalanan. Tahanlah, katanya. Aku hanya mendengarkan kata-katanya berlalu di telingaku. Hanya berlalu karena nalarku sudah musnah.

e81ab323ed45654b6e3e57cb20fd278e.jpg
-pinterest-

Mengapa? Mengapa aku harus terpisah dengannya? Begitu banyak impresiku tentang afeksi yang tertutur, tertuang dan luruh. Tumpah memenuhi lantai. Menggenang. Semakin tinggi. Dan akhirnya membuatku tenggelam.

Beginikah rasanya? Sebuah korosi yang menggerogoti nyawa hingga tak bersisa?

Inikah  gugur asmara?

“Hidup”

b7034bb52ff02bf7b6c9fad5b126de72
-pinterest-

Wanita itu nyatanya hanya bersenandung palsu. Mungkin terdengar merdu, namun bukanlah suratan sukacita namun goresan mati rasa.

Katanya, senandungnya merupakan kegilaan. Sungguh, para tetangga dulu  berkata demikian. Namun, ia tetap bersenandung dengan lantunan menyayat jiwa.

Hari itu hujan deras. Sang wanita segera berlari keluar mengangkat jemurannya dengan sigap. Setelah kembali ke dalam rumah, ia melihat sekilas ke langit-langit.

Tali itu tergantung cukup lama yah. Lengkap dengan tubuh yang mengayun tak bernyawa.

Sang perempuan baru sadar.

Oh ternyata itu dirinya.

…..