Afeksi dan Rindu

Pada malamku ini,  teringatlah  oleh nafasmu.

Kau  mengharu biru, mencurahkan sukmamu padaku.

Memberi rasa, memutar pertiwi.

“Lupakan saja semua gundahmu. Curahkan sentimen padaku, wahai tajuk mahkota!” serumu padaku.

Ini ingin kukata, apa rupa diriku tanpamu?

4b8c0ceaba63a84aaa1daf3c1d0e6b39
-pinterest-

Kau berjejal antar korosi

Menangkap tubuhku, memelukku.

Candu,candu,candu.

Kuhirup aroma tubuhku, risauku gugur.

Mari, tetap disampingku.

.

Pada malamku ini,  kutunggu dirimu.

“Sebentar saja aku berlalu, dan aku kan kembali padamu!” serumu di waktu lampau.

Ku tunggu kau tambatan, selalu kutunggu.

dc9f4364421c79a245a0334c0bc733f3.jpg
-pinterest-

Waktu berseru, terkejut.

Pintu terbuka, wujudmu muncul.

Aku berlari, memelukmu.

“Aku kembali, sungguh ku rindu!!” kau berseru, mendekap fisikku, erat. Benar  erat.

Aku berbisik di telingamu.Kau tersipu.

“Selamat datang, mahkota hatiku.”

Iklan

Gugur Asmara

Tiap ruang-ruang hampa ini membuatku bengap. Apa dayanya jika gempita menelanku bulat-bulat. Bukankah tandanya ini semua sudah tamat?

JIwanya meyakinkan ragaku bahwa untuk selalu menitih tiap lingkup perjalanan. Tahanlah, katanya. Aku hanya mendengarkan kata-katanya berlalu di telingaku. Hanya berlalu karena nalarku sudah musnah.

e81ab323ed45654b6e3e57cb20fd278e.jpg
-pinterest-

Mengapa? Mengapa aku harus terpisah dengannya? Begitu banyak impresiku tentang afeksi yang tertutur, tertuang dan luruh. Tumpah memenuhi lantai. Menggenang. Semakin tinggi. Dan akhirnya membuatku tenggelam.

Beginikah rasanya? Sebuah korosi yang menggerogoti nyawa hingga tak bersisa?

Inikah  gugur asmara?

“Hidup”

b7034bb52ff02bf7b6c9fad5b126de72
-pinterest-

Wanita itu nyatanya hanya bersenandung palsu. Mungkin terdengar merdu, namun bukanlah suratan sukacita namun goresan mati rasa.

Katanya, senandungnya merupakan kegilaan. Sungguh, para tetangga dulu  berkata demikian. Namun, ia tetap bersenandung dengan lantunan menyayat jiwa.

Hari itu hujan deras. Sang wanita segera berlari keluar mengangkat jemurannya dengan sigap. Setelah kembali ke dalam rumah, ia melihat sekilas ke langit-langit.

Tali itu tergantung cukup lama yah. Lengkap dengan tubuh yang mengayun tak bernyawa.

Sang perempuan baru sadar.

Oh ternyata itu dirinya.

…..

Jalan

Kala itu mengingatkanku

Tentang manusia (aku) yang berubah rupa

Tak dapat dikenali lagi

Tuk mencari asal usul dalam diri

a65be792f5880aa4184682ef9e61e444
-pinterest-

Mau mengupaspun takkan terbantu

Mau kugali pun takkan sampai

Mau kukejar pun selalu jauh

Maka dari itu aku bertanya.. kapan sampainya?

 

Dan ternyata begitulah sebuah cerita yang takkan selesai. Karena berabad-abad aku selalu jalin namun takkan ada habisnya. Karena dunia itu bulatkah? Atau ada semesta dibalik semesta?

Karena  ia selalu tak mendapatkannya. Maka dari itu, ia selalu berjalan.

Imbang

Sesaat itu duniaku bergemuruh akan kerasnya badai yang menerpa. Nyaliku begitu luput dan terbawa hujan.Sungguh, nestapa betul labuhan sukma dan menunggu hancurnya dengan seksama.

Tetapi saat itu,adam datang.Silau-silau meringkuk di tengah-tengah awan gelap. Dan perlahan-lahan, sinar matahari menyergap. Menyentuh kulitku yang kemudian berselimut hangat.

Pada barisan peristiwa itu, sungguhlah jika sang adam adalah seorang pujangga yang didamba. Mentari menjadi pendukung terbaiknya. Sehingga kala itu,malam jaranglah muncul. Seakan malu akan terlalu terangnya sebuah suasana.

Aku yang saat itu terbuai dengan cerahnya, tiba-tiba dipanggil bulan. Ia bertanya, apakah adam saja cukup?  Dan seketika aku terkesiap.Karena sungguh, aku merasa ada sesuatu yang salah. Namun tetap kuabaikan.

Keesokannya, bulan kembali datang. Ia bertanya, apakah adam tidak terlalu lama? Dan kemudian ia menunjukkan bunga-bunga yang layu akibat panasnya udara dan tak bisa merasakan indahnya malam.

Dan aku berpikir.Dan aku putuskan.

Aku harus bersama keduanya. Bulan dan adam.

f4d2fa8b30a5697b39a9abb67780ee12
-pinterest-

Bulan merasa puas dengan jawabanku. Seakan tidak apa-apa aku bersama dengannya sekaligus adam. Sungguh aku tak mengerti, apa dia sungguh tidak apa-apa. Sedangkan adam, sungguh adam. Dia begitu santai.

Apakah tamakku ini benarkah? Bulan berkata bahwa ini baik adanya. Baik untuk diriku, untuk dirinya, dan adam. Dan juga buana.

Supaya gelap sekaligus terang. Supaya hangat sekaligus dingin. Supaya sedih sekaligus senang. Supaya rindu sekaligus benci.

Pelari

Apakah engkau lelah?

Ya.. Saya berlarian sepanjang masa

Apakah engkau ingin berhenti?

Tentu saja

Tetapi nyatanya, kalau berhenti engkau akan musnah.

Ya.. Maka dari itu saya hanya berjaan cepat bila ingin rehat. Karena hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dihentikan hanya dengan kemauan. Saya memang lelah, tapi haruslah selalu bergerak. Bukankah itu adalah maumu?

Ini bukanlah mauku. Tapi adalah kehendaknya. Saya disini hanya menyampaikan kemauannya.

Siapa?

Raja.

Dia yang sekuasa itu? Bukankah dia sudah cukup menghancurkan kenang tidurku? Dan sekarang… Sekarang dia menginginkan hidupku?

0948046fa46a2e1721e999ff0018df5a.jpg
-pinterest-

Bukan hanya hidupmu. Tapi bahagiamu, dan karsa dagingmu. Dia tidak ingin orang lain lebih darinya.

Dasar picik.

Maka dari itu, aku  perlu dirimu tidak berhenti. Berlarilah terus  hingga dirimu dan raja sederajat. Lalu ambil takhtanya.

 Luar biasa. Setelah kurebut lalu engkau menginginkan apa?

Seperempat saja. Dan sebuah hubungan tanpa batas

Kau lebih picik.

Memang.

Bangun

Meluluhlantahkan norma dan menguatkan karma. Ini semua karena nistamu terhadap nirwana. Seluruh perkara yang runyam dam mencekik, itu semua karena engkau menentang perundangan.

a5291ba2a9974e8330728cb894084be0.jpg
-pinterest-

Memang betul, aku mencintaimu. Sungguh. Karena jika tidak, aku sudah beranjak seperti pribadi lainnya. Yang angkat kaki dari kehidupanmu. Berpura-pura tak mengenal dan tak pernah bersua. Menghindari temu mata dan beranjak berjalan.

Padahal hanya sekelebat lagi. Aku dan dirimu akan bahagia. Merangkai denyut sukacita. Mengucap asih di depan Yang Esa. Mengikat jalinan griya akan sukma. Bahkan, mungkin akan bersama buyung tercinta.

Sesunggunya aku sudah sadar sejak pertama mendalami. Dirimu memang bukanlah suatu sempurna. Terkadang begitu menjunjung ambisi sampai langit pun bukan penghalang. Begitu haus dirimu akan kuasa dan takhta. Ingin merubah bumi, katanya. Ingin menjadi bejana tampung gundah. Ingin menjulur lurus dan setimpal bagi tiap manusianya.

c57bb0d74af3568378fa54efb5b2052e.jpg
-pinterest-

Nyatanya, perlulah engkau kuseret dalam nyata. Bagaimana mimpi merubah jiwa.  Gemeliat tamakmu sungguh tak tertahan. Kuasa ini dan itu tak cukuplah. Perlu gaet manusia dusta lainnya. Ambil sana ambil situ. Dan perlahan, kau menyuapkan arta pada mahluk beringas.

Kau banyak berubah, sayang.

Bangunlah. Kutunggu engkau bersalin mengupas inti sukmamu. Untuk kembali jadi manusia.

Dendam

Ruang itu begitu gelap dan kosong. Padahal aku harap penuh cahaya.

Silat lidah saling tebuah perih. Padahal aku harap penuh gurau.

Dimana elok yang dulu? Apakan termakan kerasnya warta?

6ce197f552e8167b5a1771c496cbf67d
-pinterest-

Padahal aku sudah terpupuk oleh lesu, apalagi putus asa. Seolah kau julurkan harap, namun berbuah nista.

Sungguh tak percaya, semua hanya pura-pura.

..

Aku tahu benar, jalan ini berbatu. Menyimpan jurang tanpa arti nan ngeri. Makanya, ku putuskan,untuk menguntainya denganmu.

Ternyata hanya palsu. Kedokmu berbuah busuk dan angkuh.

..

Tunggu saja, balasku bisa membunuh.

Prita dan Gama

Prita dan Gama waktu itu hanya mengalami bahagia picisan. Masa munculnya jakun dan bertumbuhnya  dada  sudah menyergap. Berasa cinta monyet dan sungguh dangkal. Dengan berjanji bahwa akan selalu setia padahal hanya angan tanpa akar.

Prita dan Gama kemudian mengalami getir peristiwa yang bertahun. Berubah analogi hati menjadi dengki dan emosi. Indahnya tutur dan norma kini beranjak pergi. Saling benci dan kemudian berjalan di jalur sendiri.

Prita dan Gama kemudian menghela. Muak sudah pengelana sepi.Mereka berhenti berjalan sendiri. Rindu sebab hati ingin tersulam lagi. Kemudian terjadi  bertemu dengan beragam arti.

Prita dan Gama saling melihat. Cinta membuncah keluar tiada henti. Tercurah kenangan berbunga di gurun sepi. Ingin menjangkau tapi nyata mustahil. Mereka sangat mengetahui.

Prita dan Gama sungguh ingin kembali. Mereka tertunduk di bawah gerhana. Sungguh esok itu teka-teki. Apakah nyatanya kita akan tersangkut selamanya ataukah perlu pribadi lain. Tiada yang mengerti.

9fef9479d58e216599e8ad69c4142e70
-pinterest-

Prita dan Gama mengucap pergi. Kali ini dengan raut kasih dan letih. Letih pribadi akan romantisme runyam .  Berharap terbaik untuk tetap di hati. Semoga selalu terpatri rapi.

Duka

Berpaculah saat itu

Untai tanda masa lalu

Tentang derap langkah yang berpadu

Mengiringi duka yang pilu

….

f534cdf0115ecbbc646fdfb1f21fad61.jpg
-pinterest-

Pagi  itu adalah sebuah kelabu.Mengusik diri akan kenang rindu. Aku saat itu adalah yang mengutuk kepada waktu tentang bagaimana sebuah sentosa sekejap hanyalah sendu.

Langitpun ikut merenggut. Mengikut alur jiwa yang terganjal getir. Bersambar sedih dan kemudian menangis. Dengan derasnya.

6bab43b0ebfa690c8b4ed5991800ce82
-pinterest-

Betapa hangat sebuah rengkuh dirimu kini hanya sebuah fantasi berliku. Aku tak sadar bahwa rasa ini dan dirimu hanyalah sebentar dan gugur.

Hanyalah saat ini kulihat namamu ditorehkan diatas tanah bertafsir ajal. Mana kulihat rupa dirimu. Yang kucari ternyata sudah merangkul akhir.

Dan dalam afeksi ini akan selalu terukir bagaimana padu padan histori, memori, dan kasih. Sangat kompleks dan rumit sehingga takkan mudah terkikis.

Walau takkan aku seperti ini, tapi nurani belum ingin berpaling. Menitih hari tanpa hangat itu hanyalah perih berduri. Dan kini sedihku terpatri.  Sesaat itu selamanya, dan selalu menanti.