Keindahan

Aku membawa garpu. Kuarahkan ke wajahku. Kucongkel mataku. Agak susah,tapi sungguh indah. Kegelapan sungguh indah.

Aku membawa gunting. Kuasah sedikit supaya tajam. Kukoyak telingaku. Kugunting dengan nikmat. Mengecil,mengecil,dan tiadalah. Tak lupa kutusukkan gunting ke lubang telingaku. Indah. Kesunyian itu indah.

Aku berbaring di kasurku. Menyelimuti diriku. Indah. Sungguh tidur nyenyak sangat indah.

Damai

Aku benci keramaian. Kalau bisa,tenggelamkan semua dengan air.

Aku tak mau datang,kalau bisa kurubuhkan semua gedungnya dan kuharap badai menelan reruntuhannya.

Aku akan menyukainya,jika rata dengan tanah. Kosong. Hanya aku tersisa.

Pisau

Setiap hari ia mengasah pisaunya. Hari ini pisau mentega. Jika digunakan memotong daging,hanya akan tergores.

Besoknya,ia mengasah pisau roti. Bergerigi, tidak cukup kuat memotong daging.

Tidak sabar, dengan tekad bulat hari ini ia mengasah pisau terbesar yang dimiliki. Diasah sampai malam. Sampai bisa memotong deburan angin.

Dan, akhirnya. Ia menusuk dirinya dengan puas. Pisau yang sempurna untuk mengakhiri hidupnya

Biasa

Seperti biasa, lelaki itu tidur di kasurnya selama 3 jam di malam hari. Dengan tenang, dan punggung meringkuk memeluk gulingnya.

Terbangun pukul 5, mematikan alarm, dan tidur lagi sampai jam 7.

Kelas pukul 9, dan segeranya ia mulai beberes memasukkan buku pelajarannya ke ransel yang digunakan semenjak sma.

Setelah itu ia mandi, menyegarkan pikiran dan terbangun sepenuhnya. Dingin air di pagi hari menerpa tubuhnya.

Ia minum air putih dengan cepat, namun perasaan itu tak kunjung hilang.

Ia kembali ke kamar mandi, merasa mual dan lemas, memuntahkan segala isi perutnya ke toilet.

Membasuh mulutnya, dan minum air lagi.

Itulah rutinitasnya.

Hilang

Pagiku berkelana tanpa pasti. Mengikuti jalan tanpa ranah nan sedih.
Dan kukubur diriku.
Menutup sukmaku.
Menghilangkan memori tercampur ilusi.

Belatung memakan ragaku, dan tak ada emosi.

Terkikis,mati,memuai,dan hilang.

Diriku hilang.

Tercampur obat, maka diriku busuk.

Tercampur borok, diriku membusuk.

Tercampur nafsu, kepuasan tanpa hati.

Diriku hilang.

Mana saya tahu

Mana saya tahu hidup akan segila ini.

Mana saya tahu tutur sekotor ini.

Mana saya tahu kau menyetubuhi jiwa ini.

Mana saya tahu.

Mana saya tahu rasa sepahit ini.

Mana saya tahu binalnya kota ini.

Mana saya tahu otak serumit ini.

Mana saya tahu.

Mana saya tahu raga bisa tahan.

Mana saya tahu terkurung secara laknat.

Mana saya tahu sendiri yang abadi.

Mana saya tahu.

Berduri

Saat ini Kintan sedang jatuh cinta. Pada sang pujangga yang cukup tenang. Wajahnya bagai lantunan senja. Hangat menerpa setiap rupa.

Cinta benar adanya. Benar adanya. Benar rasanya. Indah, sungguh terangsang jiwanya.

Sudah berjalan 8 bulan, sungguh. Indah. Walau dia, sang pujangga adalah sosok yang rupawan. Tapi, Kintan cukup terluka.

Tak diketahui banyak khalayak, pujangga memangsa, sedikit demi sedikit, menggerogoti hati Kintan hingga berlubang.

Hatinya terperas, hingga tak bersissa. Jiwanya terbebat, durinya begitu tajam. Belati menghunus, melalui otaknya. Hingga hilang akal, hilang hidupnya.

Kintan bertahan padanya, untuk hirupan derita. Karena Kintan terpedaya, oleh fana asmara.

Kintan tak bisa lepas, pergi ke angkasa.

Dan Kintan,

Mengubur dirinya. Bersama tanah terbumbu hujan.