Mati, dan pergi

Badanku kaku

Keluarlah darahku

Mengucur mengalir terlebur

Bersama rasaku

.

Ragaku yang kemudian membiru

Hilang mataku

Lemas tubuhku

Diam membisu

e62073e580b1b90c2e026168c6f05f44
-pinterest-

Hujan kala itu

Membawa amis tubuku

Membilas nyawaku

Mendukung pergiku

1e2f064a9db40c47c9130dbac9dc71b7
-pinterest-

Perlahan mengabur

Lenyap tanpa sisa.

Tanpa rasa.

.

Dan matilah aku

Iklan

Tiada

Aku mengapungkan diriku

Ikuti arus dan hayut

Pergilah ragaku

Tanpa alur dan waktu

.

Tubuhku membusuk

Tertutup lumut

Terubung belatung

Memakan sukmaku

e608fc23dd4a3d42f20584c6f31a888a
-pinterest-

Hanya bersisalah tulang

Mati tenggelam

Terbunuh

Tanpa nisan

e075b898febbd7c43484cfa194f604be
-pinterest-

Tanpa kehilangan

Melanjut  lingkaran

Tanpa lantun duka

Dan mulai terlupa

Afeksi dan Rindu

Pada malamku ini,  teringatlah  oleh nafasmu.

Kau  mengharu biru, mencurahkan sukmamu padaku.

Memberi rasa, memutar pertiwi.

“Lupakan saja semua gundahmu. Curahkan sentimen padaku, wahai tajuk mahkota!” serumu padaku.

Ini ingin kukata, apa rupa diriku tanpamu?

4b8c0ceaba63a84aaa1daf3c1d0e6b39
-pinterest-

Kau berjejal antar korosi

Menangkap tubuhku, memelukku.

Candu,candu,candu.

Kuhirup aroma tubuhku, risauku gugur.

Mari, tetap disampingku.

.

Pada malamku ini,  kutunggu dirimu.

“Sebentar saja aku berlalu, dan aku kan kembali padamu!” serumu di waktu lampau.

Ku tunggu kau tambatan, selalu kutunggu.

dc9f4364421c79a245a0334c0bc733f3.jpg
-pinterest-

Waktu berseru, terkejut.

Pintu terbuka, wujudmu muncul.

Aku berlari, memelukmu.

“Aku kembali, sungguh ku rindu!!” kau berseru, mendekap fisikku, erat. Benar  erat.

Aku berbisik di telingamu.Kau tersipu.

“Selamat datang, mahkota hatiku.”

Temu Bahagia

Terasa benar

Sinar pujangga semerbak

Berbau rindu dan asa

Nyata jalinan buai dan kata surga

.

Inilah  pelita

Bahagia oleh tulus

Bertabur lantunan syahdu

Bergiring berlalu membawa rusuh

77025f8d1afb7c65c6ccd3c5271b5392
-pinterest-

Tanganku yang dulu tak sampai

Kini berpegang teguh

Takkan pernah luruh

Takkan pernah rapuh

.

Biarlah walau tak baka

Karena lakumu begitu berharga

Hidupkan mantra perihal prima

Rengkuh jiwa dari kelam fana

Buai yang Hilang

Dalam benak telah dihitung

Satu dekade lamanya

Hujan tak turun lagi

Dan tanah mulai berkeping

.

Dalam buai nestapa

Bukanlah candra menjadi penenang

Ternyata baskara

Tentu yang terbutuhkan

095a8fe38e8a51ccae27d7739e8ef508
-pinterest-

Ketika semua menjadi abu

Dan sentosa bukan pilihan

Semua kita, para insan

Hidup berjejal tanpa nikmat

Gugur Asmara

Tiap ruang-ruang hampa ini membuatku bengap. Apa dayanya jika gempita menelanku bulat-bulat. Bukankah tandanya ini semua sudah tamat?

JIwanya meyakinkan ragaku bahwa untuk selalu menitih tiap lingkup perjalanan. Tahanlah, katanya. Aku hanya mendengarkan kata-katanya berlalu di telingaku. Hanya berlalu karena nalarku sudah musnah.

e81ab323ed45654b6e3e57cb20fd278e.jpg
-pinterest-

Mengapa? Mengapa aku harus terpisah dengannya? Begitu banyak impresiku tentang afeksi yang tertutur, tertuang dan luruh. Tumpah memenuhi lantai. Menggenang. Semakin tinggi. Dan akhirnya membuatku tenggelam.

Beginikah rasanya? Sebuah korosi yang menggerogoti nyawa hingga tak bersisa?

Inikah  gugur asmara?

“Hidup”

b7034bb52ff02bf7b6c9fad5b126de72
-pinterest-

Wanita itu nyatanya hanya bersenandung palsu. Mungkin terdengar merdu, namun bukanlah suratan sukacita namun goresan mati rasa.

Katanya, senandungnya merupakan kegilaan. Sungguh, para tetangga dulu  berkata demikian. Namun, ia tetap bersenandung dengan lantunan menyayat jiwa.

Hari itu hujan deras. Sang wanita segera berlari keluar mengangkat jemurannya dengan sigap. Setelah kembali ke dalam rumah, ia melihat sekilas ke langit-langit.

Tali itu tergantung cukup lama yah. Lengkap dengan tubuh yang mengayun tak bernyawa.

Sang perempuan baru sadar.

Oh ternyata itu dirinya.

…..

Rupa Tabula Rasa

Cerai berai sosok manusia ini

Nyatanya tabula rasa

Bukanlah terlahir binal dan dewasa

Namun berawal dari suci tak berdaya

.

Sebuah rasa hambar yang tak terikat

Bukannya terbentuk asli dari ibunya

Terbentuk oleh suasana dunia

Dan dibumbu dengan namanya rasa

0eb4c1a3b4d4d17d4fe53d8d3fdde99c.jpg
-pinterest-

Keadaan ini semua bukanlah hakikat

Bukan pula hikayat yang perlu tutur cerita

Tapi sungguh luar biasa

Bisa membentuk pribadi berbeda

.

Jangan kaget jika aku rusak

Jangan kaget dirinya  terhormat

Sungguh karena itu purwarupa

Akan sentimen dan bentala

Rindu

Suam-suam embun sangat merindu

Kala dinginnya cuaca tanpa ufuk

Hari itu, sang pecandu sedang berpadu

Memadu pilu tanpa siku

 

123.jpg
-pinterest-

Tak ada lagi, sungguh

Sebuah nirwana yang aku rengkuh

Muncullah lagi, begitu

Sakitku ini  menantimu yang sendu

 

Bukankah ini katamu sebuah kisah haru

Namun tak ada lagi tetes syahdu

Karena sudah cukup aku terpaku

Sang pecandu ini takkan pernah baru

Jalan

Kala itu mengingatkanku

Tentang manusia (aku) yang berubah rupa

Tak dapat dikenali lagi

Tuk mencari asal usul dalam diri

a65be792f5880aa4184682ef9e61e444
-pinterest-

Mau mengupaspun takkan terbantu

Mau kugali pun takkan sampai

Mau kukejar pun selalu jauh

Maka dari itu aku bertanya.. kapan sampainya?

 

Dan ternyata begitulah sebuah cerita yang takkan selesai. Karena berabad-abad aku selalu jalin namun takkan ada habisnya. Karena dunia itu bulatkah? Atau ada semesta dibalik semesta?

Karena  ia selalu tak mendapatkannya. Maka dari itu, ia selalu berjalan.