Temu Bahagia

Terasa benar

Sinar pujangga semerbak

Berbau rindu dan asa

Nyata jalinan buai dan kata surga

.

Inilah  pelita

Bahagia oleh tulus

Bertabur lantunan syahdu

Bergiring berlalu membawa rusuh

77025f8d1afb7c65c6ccd3c5271b5392
-pinterest-

Tanganku yang dulu tak sampai

Kini berpegang teguh

Takkan pernah luruh

Takkan pernah rapuh

.

Biarlah walau tak baka

Karena lakumu begitu berharga

Hidupkan mantra perihal prima

Rengkuh jiwa dari kelam fana

Buai yang Hilang

Dalam benak telah dihitung

Satu dekade lamanya

Hujan tak turun lagi

Dan tanah mulai berkeping

.

Dalam buai nestapa

Bukanlah candra menjadi penenang

Ternyata baskara

Tentu yang terbutuhkan

095a8fe38e8a51ccae27d7739e8ef508
-pinterest-

Ketika semua menjadi abu

Dan sentosa bukan pilihan

Semua kita, para insan

Hidup berjejal tanpa nikmat

Gugur Asmara

Tiap ruang-ruang hampa ini membuatku bengap. Apa dayanya jika gempita menelanku bulat-bulat. Bukankah tandanya ini semua sudah tamat?

JIwanya meyakinkan ragaku bahwa untuk selalu menitih tiap lingkup perjalanan. Tahanlah, katanya. Aku hanya mendengarkan kata-katanya berlalu di telingaku. Hanya berlalu karena nalarku sudah musnah.

e81ab323ed45654b6e3e57cb20fd278e.jpg
-pinterest-

Mengapa? Mengapa aku harus terpisah dengannya? Begitu banyak impresiku tentang afeksi yang tertutur, tertuang dan luruh. Tumpah memenuhi lantai. Menggenang. Semakin tinggi. Dan akhirnya membuatku tenggelam.

Beginikah rasanya? Sebuah korosi yang menggerogoti nyawa hingga tak bersisa?

Inikah  gugur asmara?

“Hidup”

b7034bb52ff02bf7b6c9fad5b126de72
-pinterest-

Wanita itu nyatanya hanya bersenandung palsu. Mungkin terdengar merdu, namun bukanlah suratan sukacita namun goresan mati rasa.

Katanya, senandungnya merupakan kegilaan. Sungguh, para tetangga dulu  berkata demikian. Namun, ia tetap bersenandung dengan lantunan menyayat jiwa.

Hari itu hujan deras. Sang wanita segera berlari keluar mengangkat jemurannya dengan sigap. Setelah kembali ke dalam rumah, ia melihat sekilas ke langit-langit.

Tali itu tergantung cukup lama yah. Lengkap dengan tubuh yang mengayun tak bernyawa.

Sang perempuan baru sadar.

Oh ternyata itu dirinya.

…..

Rupa Tabula Rasa

Cerai berai sosok manusia ini

Nyatanya tabula rasa

Bukanlah terlahir binal dan dewasa

Namun berawal dari suci tak berdaya

.

Sebuah rasa hambar yang tak terikat

Bukannya terbentuk asli dari ibunya

Terbentuk oleh suasana dunia

Dan dibumbu dengan namanya rasa

0eb4c1a3b4d4d17d4fe53d8d3fdde99c.jpg
-pinterest-

Keadaan ini semua bukanlah hakikat

Bukan pula hikayat yang perlu tutur cerita

Tapi sungguh luar biasa

Bisa membentuk pribadi berbeda

.

Jangan kaget jika aku rusak

Jangan kaget dirinya  terhormat

Sungguh karena itu purwarupa

Akan sentimen dan bentala

Rindu

Suam-suam embun sangat merindu

Kala dinginnya cuaca tanpa ufuk

Hari itu, sang pecandu sedang berpadu

Memadu pilu tanpa siku

 

123.jpg
-pinterest-

Tak ada lagi, sungguh

Sebuah nirwana yang aku rengkuh

Muncullah lagi, begitu

Sakitku ini  menantimu yang sendu

 

Bukankah ini katamu sebuah kisah haru

Namun tak ada lagi tetes syahdu

Karena sudah cukup aku terpaku

Sang pecandu ini takkan pernah baru

Jalan

Kala itu mengingatkanku

Tentang manusia (aku) yang berubah rupa

Tak dapat dikenali lagi

Tuk mencari asal usul dalam diri

a65be792f5880aa4184682ef9e61e444
-pinterest-

Mau mengupaspun takkan terbantu

Mau kugali pun takkan sampai

Mau kukejar pun selalu jauh

Maka dari itu aku bertanya.. kapan sampainya?

 

Dan ternyata begitulah sebuah cerita yang takkan selesai. Karena berabad-abad aku selalu jalin namun takkan ada habisnya. Karena dunia itu bulatkah? Atau ada semesta dibalik semesta?

Karena  ia selalu tak mendapatkannya. Maka dari itu, ia selalu berjalan.

Luka

Seperti luka yang membusuk

Lalu menjadi borok..

Bau dan menjijikan

Dan sampai hati bertanya? Kapankah keringnya?

007d6856ff05f821c26947c4f0214634
-pinterest-

Karena begitu sakit dan tak enak dipandang, dia menghitam

Mengeras dan perlahan pudar

Sedikit nyeri tersisa..

Dan akhirnya berbekas

.

Sudah tidak ada memang

Namun bekasnya masih terlihat

Menjadi memori tentang sebuah kejadian

Begitu menyakitkan dan tak terlupa

Kenang

Ketika wacanaku bertuturkan sebuah senja di tengah kota

Dan ia menghiasinya, begitu indah

Kala itu netraku yang merekam

Beragam hayat yang tak kunjung pudar

6f7abdd2ab7316496edc288a9ac0c525.jpg
-pinterest-

Sumber hangatnya ternyata ulu hati

Yang mendekam diam namun menari

Ingin rasanya kemudian aku menugasi

Agar budiku selalu beriring

……….

Setelah berapa waktu yang tak bisa diungkap………

.

Waktu itu, ketika kau bertanya tentang durasi

Sesungguhnya, aku juga tak mengerti

Karena sepanjang hari aku terdiam hening

Memutar kembali memori lestari

Imbang

Sesaat itu duniaku bergemuruh akan kerasnya badai yang menerpa. Nyaliku begitu luput dan terbawa hujan.Sungguh, nestapa betul labuhan sukma dan menunggu hancurnya dengan seksama.

Tetapi saat itu,adam datang.Silau-silau meringkuk di tengah-tengah awan gelap. Dan perlahan-lahan, sinar matahari menyergap. Menyentuh kulitku yang kemudian berselimut hangat.

Pada barisan peristiwa itu, sungguhlah jika sang adam adalah seorang pujangga yang didamba. Mentari menjadi pendukung terbaiknya. Sehingga kala itu,malam jaranglah muncul. Seakan malu akan terlalu terangnya sebuah suasana.

Aku yang saat itu terbuai dengan cerahnya, tiba-tiba dipanggil bulan. Ia bertanya, apakah adam saja cukup?  Dan seketika aku terkesiap.Karena sungguh, aku merasa ada sesuatu yang salah. Namun tetap kuabaikan.

Keesokannya, bulan kembali datang. Ia bertanya, apakah adam tidak terlalu lama? Dan kemudian ia menunjukkan bunga-bunga yang layu akibat panasnya udara dan tak bisa merasakan indahnya malam.

Dan aku berpikir.Dan aku putuskan.

Aku harus bersama keduanya. Bulan dan adam.

f4d2fa8b30a5697b39a9abb67780ee12
-pinterest-

Bulan merasa puas dengan jawabanku. Seakan tidak apa-apa aku bersama dengannya sekaligus adam. Sungguh aku tak mengerti, apa dia sungguh tidak apa-apa. Sedangkan adam, sungguh adam. Dia begitu santai.

Apakah tamakku ini benarkah? Bulan berkata bahwa ini baik adanya. Baik untuk diriku, untuk dirinya, dan adam. Dan juga buana.

Supaya gelap sekaligus terang. Supaya hangat sekaligus dingin. Supaya sedih sekaligus senang. Supaya rindu sekaligus benci.